Dari Tanah Hantapang: Kisah Benteng Pertahanan yang Berdiri Sejak Abad ke-14

Dayak ngaju memiliki sejarah panjang yang memiliki banyak situs yang sampai sekarang masih dapat diamati. Salah satu situs yang memiliki sisa peninggalan yang paling utuh adalah Kuta Hantapang. Kuta Hantapang adalah salah satu benteng pertahanan kuno orang dayak Ngaju yang sudah berumur lebih dari 600 tahun. Fakta ini menunjukan bahwa desa hantapang memiliki sejarah dan budaya yang sudah berjalan panjang dan patut mendapat perhatian secara nasional.

Kuta Hantapang telah dihuni sejak tahun 1350 hingga abad ke-20 dan terakhir kali diadakan upacara kematian (tiwah) pada tahun 1932. Setelah itu akibat bangunan yang sudah mulai roboh ditambah dengan adanya kebakaran yang akhirnya melenyapkan sebagian besar dari situs tersebut, penduduk asli keturunan penghuni dari kuta Hantapang akhirnya memilih untuk mendirikan bangunan pribadi disekitar lokasi tersebut yang sekarang menjadi Desa Hantapang.

Situs peninggalan bersejarah ini juga telah diteliti oleh tim dari Balai Arkeologi Kalimatan selatan bersama Dinas Kebudayaan Kalimantan Tengah. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh beberapa fakta menarik tentang situs ini. Mulai dari kronologiberdiri hingga runtuhnya bangunan ini, pembagian isi dalam rumah panjang, dan sejarah tentang penghuni dalam kuta ini.

Apa itu "Kuta"?

Kuta adalah benteng pertahanan yang dibuat untuk melindungi penghuni rumah panjang (Betang) dengan menghalau musuh yang berniat untuk masuk ke area sekitar rumah panjang. Umumnya benteng ini dibuat menggunakan kayu ulin yang ditancapkan ke tanah dan disejajarkan sehingga membentuk pagar kayu rapat dan tinggi kemudian dibuat mengelilingi seluruh area rumah.

Kuta Hantapang terletak di pemukiman tua (kaleka) masyarakat Dayak Ngaju di Desa Hantapang, Kabupaten Rungan Hulu, Kabupaten Gunungmas, Provinsi Kalimantan Tengah. Istilah kuta yang digunakan masyarakat Ngaju untuk menyebut bangunan benteng berasal dari bahasa Sanskerta, yang juga mengandung makna yang sama, yaitu benteng. Penggunaan istilah yang diserap dari bahasa Sanskerta tersebut memberi petunjuk adanya pengaruh pembawa bahasa yang dibawa oleh masyarakat pedagang dari India pada masa pengaruh Hindu-Buddha masuk di wilayah Kalimantan Tenggara.

Lokasi dan Gambaran Fisik Situs

Kuta Hantapang tepat berada di tepi sungai Rahuyan, dikelilingi sungai Tapang di sisi kiri-kanan dan belakang. Kondisi geografis tersebut membuat kawasan Kuta Hantapang menjadi seperti pulau kecil yang dikelilingi oleh sungai. Selain itu Kuta Hantapang juga dikelilingi oleh tiga bukit yaitu bukit Tajahan kias, Bukit Bantong, dan Tajahan Antang. Secara tradisi, ketiga bukit tersebut dianggap sebagai batas wilayah dan pelindung kawasan.

Dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh tim arkeologi, Kuta Hantapang memiliki bentuk persegi dengan ukuran 40×25 meter. Awalnya dipagari dengan tembok dari kayu ulin yang disusun rapat dan berdiri tinggi. Menurut catatan seorang penjelajah Schwaner dalam bukunya pada tahun 1843-1847, tinggi pagarnya mencapai 25 meter.

Kronologi: Berapa Usia Sebenarnya?

Dibuktikan dengan uji karbon (14C) pada lima sampel tiang kayu ulin dari bangunan kuta Hantapang.

Dibuktikan dengan temuan keramik Dinasti Ming akhir hingga Qing, Serta keramik Eropa.

Upacara tiwah ini juga menjadi kegiatan terakhir yang dilaksanakan di benteng ini. Setelah kegiatan ini seluruh keturnan penghuni benteng ini sudah tidak meninggalinya lagi karena memilih mendirikan rumah secara madiri di area sekitar benteng ini. Hal ini disebabkan karena kondisi rumah panjang yang sudah tidak layak huni lagi.

Menjelajah Isi Benteng: Tata Ruang dan Bangunan di Dalamnya

screenshot 2026 08 15 at 17.59.26

Rumah Betang

Rumah betang adalah bangunan utama di dalam benteng (Kuta) yang merupakan rumah panjang yang biasanya ditinggali oleh beberapa kepala keluarga sekaligus (Umumnya bersaudara). Rumah Betang di Kuta Hantapang saat pertama kali didirikan dihuni oleh enam bersaudara keturunan tokoh bernama Halilit. Salah satu dari enam bersaudara ini bernama Halilit.

Rumah betang ini ditempatkan di sudut barat laut yang merupakan area tertinggi di dalam kuta. Tiang rumah betang memiliki sisa yang paling utuh diantara sisa bangunan lainnya. karena sebagian masih berdiri menjulang keatas tanah.

Sandung

Sandung merupakan bangunan pemakaman sekunder tempat menyimpan tulang orang tua atau keluarga yang telah meninggal dan telah melalui upacara ada tiwah. Sandung di Kuta Hantapang ditempatkan di bagian depan rumah betang.

Pantar dan Sapundu

Ini adalah tiang-tiang tinggi yang digunakan untuk upacara tiwah, yang difungsikan untuk mengikat hewan kurban dan simbol pengantar arwah. Sapundu yang telah digunakan umumnya dipindahkan dan ditancap di sekitar sapundu.

Patung Kambirawit

Patung penjaga kuta yang memiliki tinggi sekitar 9 meter di bagian depan sekitar gerbang benteng. Patung ini memiliki wajah bermata melotot dan lidah menjulur.

Harta Karun dari Bawah Tanah: Temuan Arkeologi

Setelah kejadian kebakaran yang terjadi pada tahun 2009, sebagian besar isi bangunan kuta hantapang habis terbakar. Namun setelah penggalian yang dilakukan oleh tim peneliti dan arkeologi, ternyata di bawah bangunan kuta hantapang ini banyak ditemukan “Harta Karun” berupa manik-manik kaca dan batu, Pecahan keramik, peralatan logam dan lain- lain. Sisa penggalan ini merupakan harta karun yang telah tertimbun turun-temurun mengingat panjangnya usia huni dari situs ini serta letak penemuan yang berada ditingkat kedalaman berbeda.

Ratusan manik-manik kaca dan batu warna-warni (biru, merah, kuning, karnelian) — bukti jalur perdagangan yang luas

Pecahan keramik asing dari Dinasti Ming dan Qing (Cina), serta dari Eropa — menunjukkan Hantapang bukan daerah terisolasi, tapi terhubung ke jaringan dagang internasional sejak berabad-abad lalu

Alat-alat besi: pisau, mata pancing, paku, bahkan alat tulis dari batu (garip)

Batu asah untuk mengasah peralatan logam

Kuta Hantapang Hari Ini: Mengapa Situs Ini Penting Dijaga

Kuta Hantapang adalah situs yang relatif paling utuh dibandingkan dengan situs lain di sepanjang DAS Kahayan. Sisa bangunan asli yang masih dapat dilihat dan diamati berupa tiang-tiang berjajar dan menjulang tinggi menjadi bukti bagaimana kokoh dan penuh nilai historiknya situs ini. Di sepanjang aliran sungai maupun anak sungai kahayan ditemukan beberap Kuta lain juga seperti Kuta Madehan (Desa Tumbang Malahoi), Kuta Mapot (Desa Tumbang Lapan), dan Kuta Amay Rawang (Desa Upun Batu). Namun Kuta Hantapang sendiri punya posisi yang unik karena keadaannya yang masih alami.

Kebakaran besar yang melanda Kuta Hantapang pada tahun 2009 memperparah keadaan kuta ini. Kebakaran ini menyebabkan sisa-sisa bangunan yang sebelumnya masih dapat diamati menjadi terbakar habis. Oleh karena itu, mengingat nilai historis, keaslian, dan pentingnya menjaga warisan budaya daerah, Kuta Hantapang layak untuk dapat perhatian khusus dari pemerintah pusat maupun daerah. Situs ini memiliki potensi yang besar baik secara ekonomi, pendidikan, maupun kebudayaan.

Penutup

Nama “Hantapang” punya akar sejarah yang panjang, bahkan tercatat sejak penjelajah Eropa Schwaner menuliskannya sebagai “Kotta Hantapan” pada abad ke-19 dalam buku ekslpolasinya ke pedalaman kalimantan. Kuta Hantapang sendiri menjadi salah satu simbol bagaimana masyarakat dayak sudah memiliki teknologi, jaringan internasional, dan kebudayaan yang sangat panjang bahkan hingga ratusan tahun yang lalu. Daerah yang secara geografis jauh dari pusat peradaban besar dan perdagangan pada masanya sudah punya sistem masyarakat dan kebudayaan sendiri yang menjadi identitas masyarakat dayak hingga saat ini.

Sebagai masyarakat Dayak tentu kita patut bangga dengan peninggalan bersejarah seperti kuta hantapang ini. Namun keberadaan Kuta Hantapang sendiri sangat memprihatinkan dan sangat perlu uluran tangan dari berbagai pihak agar warisan budaya ini dapat bertahan utuh. Perlu adanya kolaborasi baik dari pemerintah dan masyarakat desa, pemerintah kabupaten, Provinsi hingga pusat agar situs ini tidak menjadi hilang ditelan kondisi alam ataupun keserakahan manusia.

Harapan besarnya adalah agar situs ini dapat mendapatkan perhatian dari pihak yang terkait sehingga dapat diperbaharui sehingga dapat menjadi salah satu destinasi wisata historis di kabupaten Gunung Mas. Dengan adanya perbaikan akses menuju lokasi, pembaharuan (rebuilding) bangunan, serta pelatihan sadar wisata bagi masyarakat desa, akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat serta memberikan citra positif bagi Kabupaten Gunung Mas sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *